Masjid Baitul Khariaat
- Indonesia
- Public Spaces
- Keagamaan
Suar Baru Keimanan: Pencahayaan sebagai Penanda Simbolik Masjid Baitul Khairaat
Masjid Baitul Khairaat merupakan kompleks masjid seluas empat hektare dengan kapasitas hingga 15.000 jamaah, yang dikembangkan sebagai landmark religius dan sipil baru di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Dirancang untuk mendukung kegiatan ibadah, aktivitas komunitas, dan pertemuan sosial, masjid ini menempatkan pencahayaan sebagai elemen penting dalam membentuk ekspresi arsitektur, suasana spiritual, serta identitas visualnya pada malam hari.
Nama Baitul Khairaat, yang berasal dari Al-Qur’an, merujuk pada sebuah rumah yang berfungsi sebagai pusat ibadah, dakwah, dan kehidupan bermasyarakat. Makna ini tercermin dalam komposisi arsitektur masjid, di mana pencahayaan digunakan untuk menegaskan elemen-elemen simbolik dan memperkuat signifikansinya setelah gelap.
Salah satu fitur paling menonjol adalah menara masjid yang memiliki menara jam analog terbesar di Indonesia, yang telah diakui secara resmi oleh Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).
Dengan diameter jam mencapai 19,3 meter, menara ini disorot menggunakan lampu sorot Panasonic RGBW, sehingga memberikan visibilitas yang kuat sekaligus mempertegas perannya sebagai landmark visual dan simbolik bagi kota.
Pencahayaan terus memainkan peran penting di seluruh area kompleks masjid. Lobi utama, yang melambangkan persatuan umat, diterangi menggunakan downlight yang dapat diarahkan dan downlight tanam untuk menghasilkan tingkat pencahayaan yang seimbang dan kenyamanan visual. Pendekatan ini mendukung pergerakan jamaah dalam jumlah besar sekaligus menjaga suasana yang tenang dan bermartabat, sesuai dengan karakter ruang ibadah.
Di jantung masjid, kubah berfungsi sebagai pusat ibadah sekaligus fokus visual utama. Bentuk dan simbolisme spiritualnya ditegaskan melalui penggunaan lampu sorot yang menciptakan suasana hangat dan khusyuk di dalam ruang salat. Sesuai dengan tradisi Islam, di mana hari baru dimulai saat matahari terbenam, bagian puncak kubah juga diterangi menggunakan lampu sorot Panasonic RGBW. Komposisi pencahayaan ini menandai transisi waktu pada saat Maghrib, sekaligus menegaskan peran kubah sebagai penanda spiritual dan temporal.
Menara kembar masjid, masing-masing setinggi 66,66 meter sebagai rujukan pada 6.666 ayat Al-Qur’an, diterangi menggunakan kombinasi lampu sorot Panasonic RGBW. Bersama dengan tinggi bangunan utama sebesar 30 meter yang melambangkan 30 juz Al-Qur’an pencahayaan diterapkan secara cermat untuk menerjemahkan simbolisme numerik tersebut ke dalam ekspresi visual malam hari yang jelas dan mudah dibaca, tanpa mendominasi bentuk arsitekturalnya.
Di luar area ibadah utama, desain pencahayaan juga menjawab kebutuhan keselamatan, orientasi, dan fungsi di seluruh kompleks masjid.
Pertimbangan estetika diintegrasikan melalui penempatan armatur yang strategis dan pengaturan warna yang cermat, dengan lampu sorot Panasonic RGBW berperan penting dalam menegaskan detail arsitektur sekaligus menjaga harmoni visual dan menciptakan suasana y ang hangat serta menyambut bagi jamaah.
Elemen pencahayaan tidak hanya berfungsi sebagai penerangan, tetapi juga sebagai penanda visual untuk keselamatan dan orientasi. Lampu LED step Panasonic diintegrasikan di sepanjang area tangga untuk menegaskan setiap anak tangga secara jelas, membimbing jamaah dengan cahaya yang tenang dan menenangkan, sekaligus memperkuat rasa keteraturan dan kesinambungan di seluruh area sirkulasi.
Di area yang diperuntukkan bagi ritual bersuci (wudu), pencahayaan mendukung kejernihan dan kebersihan tanpa menimbulkan distraksi. Lampu tanam Panasonic memberikan pencahayaan lembut dan terarah dengan baik, memastikan visibilitas dan kenyamanan selama berwudu, sehingga area tetap fungsional sambil mempertahankan karakter yang tenang dan penuh penghormatan.
Mengingat kapasitas masjid yang besar, pencahayaan area luar juga menjadi prioritas. Area sekitar dan fasilitas parkir diterangi menggunakan lampu jalan untuk memastikan akses yang aman dan sirkulasi yang tertib bagi jamaah yang menghadiri salat harian, salat Jumat, maupun kegiatan keagamaan berskala besar. Melalui strategi pencahayaan yang komprehensif di area ibadah, sirkulasi, dan zona luar, masjid ini menghadirkan lingkungan malam hari yang menyatu, tertata, dan penuh penghormatan.
Melalui perhitungan pencahayaan yang matang, pemilihan armatur, serta implementasi sistem oleh Panasonic, Masjid Baitul Khairaat menunjukkan bagaimana pencahayaan dapat mendukung arsitektur religius sekaligus menjawab kebutuhan fungsional akan skala, keselamatan, dan ketahanan. Proyek ini mencerminkan pendekatan Panasonic dalam menerangi landmark keagamaan di mana teknologi berperan melayani makna, memperkuat identitas arsitektur, dan berkontribusi pada terciptanya simbol kota Palu yang bermartabat dan berkelanjutan.
Masjid Baitul Khariaat
- Location
- Jalan WR. Supratman, Kota Palu, sulawesi tengah
- Client (Owner)
- Dinas cipta karya dan sumber daya air Provinsi Sulawesi Tengah
- Lighting design
- PT. Panasonic Gobel Life Solutions Sales Indonesia
- Completed
- Nov-25





